Laman

Selasa, 14 Oktober 2014

Martabak Manis Buatan Sendiri

Martabak tuh enak banget, baik martabak telur maupun martabak manis. Saya sendiri penggemar martabak telur, sementara suami lebih senang martabak manis. Walaupun demikian, saya tidak keberatan makan martabak manis. Demikian pula suami, tidak keberatan makan martabak telur. Salah satu kesenangan kami adalah mencoba dan mencari tahu tempat yang menjual makanan kesukaan kami dengan rasa yang paling enak. Beli? Mengapa tidak membuat sendiri?
Begitulah.. hal ini bermula ketika Rousta, kawan saya yang pemilik Raisha Baby Shop membagikan resep martabak manis yang ditemukannya di sebuah grup memasak. Saat melihat resep tersebut, saya langsung berpikir “Wah, gampang ya!” dan tertarik untuk mencoba. Tapi di sinilah seni memasak, sebuah resep orang lain yang kita pikir sempurna belum tentu sempurna untuk kita. Baiklah, kita bahas satu per satu resep asli dan dilanjutkan dengan eksperimen-eksperimen saya ya!


Resep asli:
Bahan:
250 gr tepung terigu
50 gr gula pasir
1 butir telur
350 ml air
¼ sendok teh Fermipan
sejumput garam
½ sendok teh soda kue

Finishing:
Isian sesuai selera
Margarin (optional)
Gula pasir untuk taburan (optional)

Cara membuat:
  1. Campurkan semua bahan kecuali soda kue, mixer sampai rata (tidak menggerinjal).
  2. Taburkan soda kue, aduk rata. Biarkan adonan selama 30 menit.
  3. Panaskan teflon, masukkan adonan secukupnya. Jika menginginkan pinggiran yang crispy, gunakan sendok sayur untuk membuat pinggiran (saya sih tinggal miring-miringin teflon saja untuk membuat pinggiran).
  4. Tunggu sampai permukaan adonan berlubang dan kering. Taburkan gula pasir jika mau.
  5. Tunggu sampai pinggiran kecoklatan, angkat tanpa dibalik.
  6. Olesi margarin (optional) dan beri isian sesuai selera. Lipat dan potong-potong.


Percobaan Saya
Eksperimen I
Saya ikuti persis seperti resep, tapi tanpa margarin karena margarin sedang habis. Adonan yang dihasilkan cukup cair, namun setelah didiamkan selama 30 menit adonan jadi kental dan mengembang. Setelah dieksekusi di atas kompor, hasilnya ternyata masih kurang memuaskan. Adonan tidak bisa banyak berlubang. Hanya muncul sangat sedikit lubang, setelah itu sudah matang semua. Padahal saya sudah pakai api kecil. Tanpa kemunculan lubang, tekstur martabak tidak akan berongga-rongga seperti martabak yang dibeli di luar. Hasilnya sama saja seperti pancake maupun kue lumpur. Jadi, eksperimen I saya anggap gagal.

Eksperimen II
Pada eksperimen I, sebenarnya lubang sudah muncul tapi kurang banyak dan adonan jadi keburu matang. Saya pikir, mungkin api yang saya pakai kurang kecil. Mungkin juga adonannya bantat karena telur terlalu lama dikocok. Maka saya ulangi eksperimen I dengan mengakhirkan pencampuran telur, yaitu setelah seluruh adonan tercampur rata baru saya masukkan telur dan mencampurnya selama + 1 menit menggunakan mixer. Selanjutnya, setelah adonan didiamkan 30 menit, saya ekseskusi adonan menggunakan api yang keciiiiiiiiiiil sekali. Hasilnya masih belum memuaskan, tidak jauh berbeda dari eksperimen I.

Eksperimen III
Eksperimen III ini sebenarnya eksperimen yang tidak disengaja. Eksperimen III dilakukan karena masih ada sisa adonan dari eksperimen II yang saya buat di siang hari. Saat malam hari dan suami sudah pulang, suami bertanya “Adonan apa ini?” Setelah saya bilang martabak, suami pun minta dibuatkan. Waktu saya lihat sisa adonan, saya tertegun. Ada gelembung-gelembung udara kecil-kecil yang tersebar merata di dalam adonan. Saya merasa memperoleh titik cerah, mungkin eksperimen kali ini akan berhasil. Ternyata memang demikianlah adanya. Begitu adonan dieksekusi di atas kompor... Wuiiiih, lubang-lubang langsung bermunculan di seluruh permukaan adonan. Alhamdulillaah..... Suami saya pun puas dengan hasil eksperimen saya ini. Katanya, “Wah, enak Bu! Sekarang nggak usah beli martabak lagi ya. Nggak perlu antri lagi.” Wah, ini pujian yang sangat menyenangkan untuk saya. Mengingat selera saya dan suami saya banyak yang beda, maka ketika kami bersepakat atas keberhasilan suatu hidangan berarti kemungkinan besar hidangan tersebut memang sukses.

Eksperimen IV
Berdasarkan hasil eksperimen III, saya menyimpulkan bahwa waktu 30 menit tidaklah cukup untuk mendiamkan adonan martabak. Kita memerlukan waktu lebih sampai muncul gelembung-gelembung udara pada adonan. Pada eksperimen I-III mungkin saya perlu waktu lama karena menggunakan ragi yang sudah lama. Pada eksperimen IV kali ini, saya mencoba menggunakan ragi baru dan ternyata hasil menunggunya memang lebih cepat. Untuk memperoleh adonan bergelembung, saya mendiamkan adonan kurang lebih 2 jam. Selain keadaan ragi yang baru ataupun lama, lama tunggu adonan sampai bergelembung tergantung dari banyaknya ragi yang digunakan. Semakin banyak ragi yang digunakan, waktu tunggu semakin cepat dan gelembungnya makin banyak. Tapi hati-hati jika menggunakan ragi terlalu banyak, jangan sampai rasa adonan menjadi seperti rasa tape. Ukuran ¼ sendok teh ragi merk Fermipan sudah cukup, bolehlah lebih-lebih sedikit. Kata suami, tekstur pada eksperimen IV ini sudah benar-benar mirip dengan yang dijual oleh abang-abang martabak.

Kesimpulan
Untuk memperoleh adonan martabak yang berhasil, berikut adalah tips-tips dari saya:
  • Pastikan ragi yang digunakan masih hidup
  • Campur dulu adonan sampai rata sebelum memasukkan telur
  • Mendiamkan adonan tidaklah cukup selama 30 menit. Waktu bisa bervariasi tergantung keadaan dan banyaknya ragi. Yang jelas, adonan didiamkan sampai muncul gelembung-gelembung udara pada adonan. Berdasarkan eksperimen saya, dengan resep di atas, diperlukan minimal sekitar 2 jam untuk keadaan ragi baru. Adonan sampai 6 jam masih bisa dapat hasil bagus. Lebih dari 12 jam rasanya sudah agak asam dan ketika dieksekusi rasanya jadi seperti apem.
  • Eksekusi adonan menggunakan api yang keciiiiiiiiiil sekali

Saya memasak adonan martabak menggunakan wajan teflon ukuran kecil tapi bukan yang paling kecil. Maksudnya, ukuran wajan teflon saya seperti ukuran pizza di Pizza Hut yang Pan Personal (porsi 1-2 orang). Kalau martabak ini saya jual, akan saya beri nama Pan Personal Martabak. Dengan resep di atas, akan dihasilkan 5-6 buah Pan Personal Martabak.

OK, demikian resep dan tips membuat martabak manis dari saya. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment tanpa nama akan dianggp spam ya... :)

/div