Laman

Rabu, 28 Mei 2014

Lele Goreng dan Telepon Perang

Hari ini kami habiskan di rumah saja. Walaupun begitu, bukan berarti liburan kami jadi membosankan. Tetep seru lho!

Pertama, ibu menggorengkan lele untuk makan kami sekeluarga. Bukan sembarang lele, ini lele yang dirawat Bapak di akuarium rumah! Untuk menyenangkan kami yang jauh-jauh datang berlibur dari Jakarta, Bapak merelakan lelenya yang cuma dua ekor untuk kami santap. "Sambil nguras akuarium," kata Bapak.
Sekali lagi, bukan sembarang lele, karena lele-lele Bapak ini super besar! Coba lihat saja di dalam gambar, perbandingan seekor lele dengan sebuah sendok makan. Jadi, meski cuma dua ekor, bisa untuk makan orang serumah berkali-kali.


Bapak dan ibu memang punya metode khusus dalam mengembangbiakkan lele sehingga lele-lele beliau berdua besar-besar dan berdaging. Tenang saja, makanan lele-lele itu benat-benar makanan bersih kok.. bukan kotoran makhluk hidup seperti yang dilakukan oknum-oknum peternak lele.



Nah,
setelah pesta lele, apa yang menarik hari ini? Saya bercerita pada suami tentang perkembangan telepon dari masa ke masa. Waktu saya masih kecil, telepon pertama yang saya kenal adalah telepon tanpa tombol. Kalau ingin menghubungi seseorang, kita harus memutar bulatan di tengah-tengah telepon. Angka-angka yang berbeda direpresentasikan dengan radian putaran yang berbeda.

Lama-lama, pembicaraan kami tentang telepon nyasar ke telepon kuno. Saya teringat bahwa Bapak menyimpan sepasang telepon kuno, yaitu telepon engkol militer yang digunakan semasa perang dulu. Telepon merk Alsi buatan Amerika ini besar dan berat, tapi sangat berguna pada masanya untuk komunikasi jarak jauh. Coba saja kalau kalian menonton film-film perang Amerika-Vietnam, kalian akan melihat telepon ini.


Percakapan dilanjutkan dengan bertanya kepada Bapak tentang cara kerja telepon ini. Berbekal pengetahuan dasar telekomunikasi yang pernah kami terima saat kuliah, kami pun dapat memahami konsep telepon kuno ini. Nggak usah lah ya saya terangkan detail di sini. Ini kan blog kuliner. Cerita konsep telepon kuno ini mestinya saya share di blog elektro saja :)

Pada akhirnya, sambil menikmati lele, kami dapat meruntut perkembangan teknologi telepon dari masa ke masa. Dengannya, kami dapat lebih bersyukur dengan berbagai kemudahan yang ada saat ini namun tanpa melupakan prinsip dasar komunikasi. Kacang tidak boleh lupa dengan kulitnya. Semoga pengetahuan yang kami peroleh ini dapat menginspirasi kami untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi umat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comment tanpa nama akan dianggp spam ya... :)

/div