Laman

Jumat, 01 November 2013

Homemade Yoghurt #3: Ultra Milk vs Diamond

Susu UHT Diamond. Sumber: carrefour.co.id

Keberhasilan pembuatan yoghurt yang telah lalu membuat kami ingin menguji kualitas yoghurt tersebut sebagai bibit selanjutnya. Pada eksperimen yang telah lalu, kami menggunakan perbandingan 1:10 untuk bibit:susu. Oleh karena itu, eksperimen kali ini pun juga menggunakan perbandingan tersebut agar hasilnya dapat diperbandingkan tanpa memperluas analisis parameter. Kali ini, kami menggunakan 32 gram bibit yoghurt merk Bio Kul dan 320 gram susu UHT merk Diamond. Dengan waktu fermentasi selama 10 jam, hasil yang kami peroleh persis sama dengan hasil pada eksperimen sebelumnya. Jadi, yoghurt peranakan kami sudah bisa dipakai untuk menjadi bibit yah!

Sekarang, kami ingin mencoba susu UHT merk lain yaitu Ultra Milk. Karena keberhasilan-keberhasilan sebelumnya, dengan percaya diri kami langsung membuat yoghurt dari satu liter susu UHT (kurang lebih 1000 gram). Jika menggunakan perbandingan sebelumnya, seharusnya kami memerlukan 100 gram bibit yoghurt untuk mempersempit analisis jika terjadi perbedaan hasil. Alih-alih demikian, kami menggunakan 70 gram bibit yoghurt untuk satu liter susu UHT merk Ultra Milk.


Hasilnya, setelah difermentasikan selama 8 jam, yoghurt yang terbentuk sangat-sangat encer. Teksturnya masih seperti susu tapi pecah. Rasanya pun masih kurang asam untuk bisa disebut sebagai yoghurt. Kami pun terus melanjutkan fermentasi hingga 24 jam. Rupanya, setelah 24 jam rasanya sudah seasam eksperimen-eksperimen sebelumnya namun kekentalannya kurang dan teksturnya tetap pecah. (Tekstur pecah: bayangkan susu segar yang rusak). Berharap agar kekentalan yoghurt bisa lebih baik, kami meneruskan fermentasi hingga 30 jam. Hasilnya......... kali ini yoghurt sudah uniform alias tidak pecah, namun kekentalannya tetap tidak sekental ketika menggunakan susu UHT merk Diamond. Tingkat keasamannya? Sangat asam! Anda bisa membayangkan yoghurt merk Cimory untuk membayangkan kekentalan dan keasaman yoghurt hasil eksperimen kali ini. Suami saya menyukai tingkat keasaman pada eksperimen ini (he is a Cimory lover), namun ternyata keasaman ini bukanlah favorit setiap orang. FYI, suami saya sering membawa yoghurt hasil eksperimen kami untuk dicoba rekan-rekannya di kantor.

Kalau demikian, apakah Ultra Milk benar-benar tidak akan menjadi pilihan untuk pembuatan yoghurt kami? Apakah hasil dengan tekstur dan kekentalan seperti itu benar-benar terjadi karena penggunaan Ultra Milk? Tunggu dulu.. kita tidak bisa terburu-buru mengambil kesimpulan. Ingat, pada awal-awal eksperimen kami, kami menggunakan perbandingan 1:10 alias 10:100 untuk bibit:susu. Pada eksperimen menggunakan Ultra Milk, kami menggunakan perbandingan 7:100 untuk bibit:susu. Jadi, memang bibit yang kami gunakan lebih sedikit dari sebelumnya.

Untuk menghindari kerancuan, kami pun melakukan eksperimen menggunakan susu UHT Diamond dengan perbandingan 7:100 untuk bibit:susu. Hasilnya, setelah difermentasikan selama 8 jam, yoghurt sudah terbentuk secara uniform, dengan kekentalan seperti percobaan menggunakan susu Ultra 30 jam, dan keasaman baik namun tidak seasam susu Ultra yang difermentasikan selama 30 jam.

Nah, kesimpulannya.... penggunaan susu Ultra memang memakan waktu lebih lama untuk memperoleh tekstur, kekentalan, dan keasaman yang serupa dengan susu UHT Diamond. Tingkat kekentalan yang lama diperoleh ketika menggunakan Ultra Milk, kami memperkirakan karena penggunaan susu skim dalam komposisi Ultra Milk. What? Bukannya Ultra Milk yang warna biru komposisinya cum susu sapi murni dan penstabil nabati? Iya, benar kawan.. tapi itu dulu. Ultra Milk biru yang sekarang memiliki tampilan baru bertuliskan Ultra Milk UHT Full Cream dengan susu skim tercantum pada daftar komposisinya. Lho, full cream kok pakai skim? Jadi full cream apa skim nih? Wah nggak tahulah, saya juga bingung.

Analisis kami, kekentalan yoghurt dipengaruhi oleh kandungan lemak pada susu, banyaknya bibit yang digunakan, dan lamanya waktu fermentasi. Semakin tinggi lemak pada susu, semakin kental yoghurt yang diperoleh. Semakin banyak bibit yang digunakan, semakin kental dan asam yoghurt yang diperoleh. Demikian pula, semakin lama waktu fermentasi, semakin kental dan asam yoghurt yang terbentuk. Adapun yang paling berpengaruh adalah tingginya kadar lemak dalam susu. Dengan susu berkadar lemak tinggi (full cream), kekentalan yoghurt dapat diperoleh jauh lebih cepat dibanding ketika menggunakan susu rendah lemak (skim).

Dari berbagai eksperimen yang telah kami lakukan, kami memutuskan untuk menggunakan perbandingan 10:100 untuk bibit:susu jika ingin membuat bibit karena tingkat kekentalan hasil yang tinggi. Adapun untuk tujuan langsung dikonsumsi, kami dapat menggunakan perbandingan 7:100 untuk bibit:susu untuk memperoleh tingkat kekentalan sedang.

Sekadar saran dari kami, buatlah yoghurt dengan keasaman yang diinginkan meskipun Anda masih ingin menambahkan rasa pada yoghurt. Jadi, bukan mentang-mentang mau ditambahkan rasa, yoghurt dibuat lebih asam dari yang diinginkan. Karena percayalah... penambahan rasa dan pemanis tidak akan mengurangi keasaman yoghurt secara signifikan. Kalau pemanisnya kebanyakan, rasanya malah jadi aneh lho!

4 komentar:

  1. saya baru saja beli yogurt maker. Alhamdulillah nemu blog ini, jd nggak sabar pengen segera mulai bikin. Makasih atas artikelnya.

    BalasHapus
  2. Pagi bu, skr sy dan istri jg punya hobi baru, sama sperti kluarga ibu, kluarga sy (khususnya istri membutuhkan yogurt utk melancarkan BAB) jg suka mengkonsumsi yogurt, dan karena sifat efisiennya kumat (baca PELIT) kami memutuskan utk membuat sendiri dirumah.. jadi klo baca tulisan ibu, sgt persis dengan yg saya alami hahahha...

    boleh update2 lagi donk resep2 yogurt olahannya klo ada..

    thx

    BalasHapus

Comment tanpa nama akan dianggp spam ya... :)

/div