Laman

Minggu, 23 November 2014

Berbagai Bibit untuk Yogurt Buatan Sendiri

Halo semua! Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sudah mencoba membuat yogurt sendiri seperti eksperimen-eksperimen saya yang lalu? Jika belum, yuk dicoba yuk.. Berikut ini link-link post saya tentang eksperimen membuat yogurt:


Dari berbagai eksperimen tersebut, bibit yang saya gunakan untuk membuat yogurt dengan sukses adalah Biokul Set Natural Yogurt Plain. Masalahnya, jika Anda ingin mengikuti jejak saya, bibit yogurt tadi paling kecil dikemas dalam kemasan 500 gram.. Tidak ada yang lebih kecil. Barangkali Anda ingin bibit yang lebih sedikit? Berikut adalah alternatif yang dapat saya tawarkan:


1. Yummy Plain Yogurt
Dengan kemasan kecil sekitar 100 ml, Anda bisa memanfaatkan plain yogurt merk Yummy sebagai bibit. Tidak masalah untuk menggunakan Yummy Natural Set Yogurt yang biasa maupun yang skim. Tekstur yogurt yang dihasilkan dari bibit merk ini tidak jauh berbeda dengan saat menggunakan Biokul, hanya mungkin kurang gurih sedikit saja. But overall, this yogurt set is recommended (after Biokul).
Yummy Natural Plain Yogurt via cheezymilky.blogspot.com

2. Set Yogurt 88
Jika Anda tinggal di kota Salatiga (Jawa Tengah) dan kesulitan memperoleh bibit yogurt di toko, Anda bisa membelinya di pembuat yogurt rumahan pemegang merk Yogurt 88. Lokasi toko (sekaligus rumahnya) ada di Desa Pulutan, Salatiga.
Merk 88 bisa jadi pilihan via number-88.com

3. Kekuatan Berbagi
Nah, kalau sudah ada teman yang berhasil membuat yogurt sendiri di rumah.. mengapa tidak mencicipi yogurt buatannya? Sebagai oleh-oleh, 50-100 gram plain yogurt untuk dibawa pulang tentu tidak akan memberatkan untuk dibagi bukan?
Yuk, berbagi bibit yogurt! via thevintagermixer.com

Demikianlah.. apapun bibit yogurt yang akan Anda pilih, hanya satu tips yang saya berikan: pastikan yogurt tersebut benar-benar plain alias belum diberi macam-macam rasa tambahan (bahkan gula sekalipun). Cara memastikannya? Baca saja komposisi di kemasannya. : )

Anda sudah membuat yogurt sendiri? Saya akan sangat senang jika Anda mau berbagi cerita tentang bibit yang dipakai. Anda dapat menuliskan pengalaman Anda di kolom komentar.
Lanjut baca ah...

Selasa, 14 Oktober 2014

Martabak Manis Buatan Sendiri

Martabak tuh enak banget, baik martabak telur maupun martabak manis. Saya sendiri penggemar martabak telur, sementara suami lebih senang martabak manis. Walaupun demikian, saya tidak keberatan makan martabak manis. Demikian pula suami, tidak keberatan makan martabak telur. Salah satu kesenangan kami adalah mencoba dan mencari tahu tempat yang menjual makanan kesukaan kami dengan rasa yang paling enak. Beli? Mengapa tidak membuat sendiri?
Begitulah.. hal ini bermula ketika Rousta, kawan saya yang pemilik Raisha Baby Shop membagikan resep martabak manis yang ditemukannya di sebuah grup memasak. Saat melihat resep tersebut, saya langsung berpikir “Wah, gampang ya!” dan tertarik untuk mencoba. Tapi di sinilah seni memasak, sebuah resep orang lain yang kita pikir sempurna belum tentu sempurna untuk kita. Baiklah, kita bahas satu per satu resep asli dan dilanjutkan dengan eksperimen-eksperimen saya ya!


Resep asli:
Bahan:
250 gr tepung terigu
50 gr gula pasir
1 butir telur
350 ml air
¼ sendok teh Fermipan
sejumput garam
½ sendok teh soda kue

Finishing:
Isian sesuai selera
Margarin (optional)
Gula pasir untuk taburan (optional)

Cara membuat:
  1. Campurkan semua bahan kecuali soda kue, mixer sampai rata (tidak menggerinjal).
  2. Taburkan soda kue, aduk rata. Biarkan adonan selama 30 menit.
  3. Panaskan teflon, masukkan adonan secukupnya. Jika menginginkan pinggiran yang crispy, gunakan sendok sayur untuk membuat pinggiran (saya sih tinggal miring-miringin teflon saja untuk membuat pinggiran).
  4. Tunggu sampai permukaan adonan berlubang dan kering. Taburkan gula pasir jika mau.
  5. Tunggu sampai pinggiran kecoklatan, angkat tanpa dibalik.
  6. Olesi margarin (optional) dan beri isian sesuai selera. Lipat dan potong-potong.


Percobaan Saya
Eksperimen I
Saya ikuti persis seperti resep, tapi tanpa margarin karena margarin sedang habis. Adonan yang dihasilkan cukup cair, namun setelah didiamkan selama 30 menit adonan jadi kental dan mengembang. Setelah dieksekusi di atas kompor, hasilnya ternyata masih kurang memuaskan. Adonan tidak bisa banyak berlubang. Hanya muncul sangat sedikit lubang, setelah itu sudah matang semua. Padahal saya sudah pakai api kecil. Tanpa kemunculan lubang, tekstur martabak tidak akan berongga-rongga seperti martabak yang dibeli di luar. Hasilnya sama saja seperti pancake maupun kue lumpur. Jadi, eksperimen I saya anggap gagal.

Eksperimen II
Pada eksperimen I, sebenarnya lubang sudah muncul tapi kurang banyak dan adonan jadi keburu matang. Saya pikir, mungkin api yang saya pakai kurang kecil. Mungkin juga adonannya bantat karena telur terlalu lama dikocok. Maka saya ulangi eksperimen I dengan mengakhirkan pencampuran telur, yaitu setelah seluruh adonan tercampur rata baru saya masukkan telur dan mencampurnya selama + 1 menit menggunakan mixer. Selanjutnya, setelah adonan didiamkan 30 menit, saya ekseskusi adonan menggunakan api yang keciiiiiiiiiiil sekali. Hasilnya masih belum memuaskan, tidak jauh berbeda dari eksperimen I.

Eksperimen III
Eksperimen III ini sebenarnya eksperimen yang tidak disengaja. Eksperimen III dilakukan karena masih ada sisa adonan dari eksperimen II yang saya buat di siang hari. Saat malam hari dan suami sudah pulang, suami bertanya “Adonan apa ini?” Setelah saya bilang martabak, suami pun minta dibuatkan. Waktu saya lihat sisa adonan, saya tertegun. Ada gelembung-gelembung udara kecil-kecil yang tersebar merata di dalam adonan. Saya merasa memperoleh titik cerah, mungkin eksperimen kali ini akan berhasil. Ternyata memang demikianlah adanya. Begitu adonan dieksekusi di atas kompor... Wuiiiih, lubang-lubang langsung bermunculan di seluruh permukaan adonan. Alhamdulillaah..... Suami saya pun puas dengan hasil eksperimen saya ini. Katanya, “Wah, enak Bu! Sekarang nggak usah beli martabak lagi ya. Nggak perlu antri lagi.” Wah, ini pujian yang sangat menyenangkan untuk saya. Mengingat selera saya dan suami saya banyak yang beda, maka ketika kami bersepakat atas keberhasilan suatu hidangan berarti kemungkinan besar hidangan tersebut memang sukses.

Eksperimen IV
Berdasarkan hasil eksperimen III, saya menyimpulkan bahwa waktu 30 menit tidaklah cukup untuk mendiamkan adonan martabak. Kita memerlukan waktu lebih sampai muncul gelembung-gelembung udara pada adonan. Pada eksperimen I-III mungkin saya perlu waktu lama karena menggunakan ragi yang sudah lama. Pada eksperimen IV kali ini, saya mencoba menggunakan ragi baru dan ternyata hasil menunggunya memang lebih cepat. Untuk memperoleh adonan bergelembung, saya mendiamkan adonan kurang lebih 2 jam. Selain keadaan ragi yang baru ataupun lama, lama tunggu adonan sampai bergelembung tergantung dari banyaknya ragi yang digunakan. Semakin banyak ragi yang digunakan, waktu tunggu semakin cepat dan gelembungnya makin banyak. Tapi hati-hati jika menggunakan ragi terlalu banyak, jangan sampai rasa adonan menjadi seperti rasa tape. Ukuran ¼ sendok teh ragi merk Fermipan sudah cukup, bolehlah lebih-lebih sedikit. Kata suami, tekstur pada eksperimen IV ini sudah benar-benar mirip dengan yang dijual oleh abang-abang martabak.

Kesimpulan
Untuk memperoleh adonan martabak yang berhasil, berikut adalah tips-tips dari saya:
  • Pastikan ragi yang digunakan masih hidup
  • Campur dulu adonan sampai rata sebelum memasukkan telur
  • Mendiamkan adonan tidaklah cukup selama 30 menit. Waktu bisa bervariasi tergantung keadaan dan banyaknya ragi. Yang jelas, adonan didiamkan sampai muncul gelembung-gelembung udara pada adonan. Berdasarkan eksperimen saya, dengan resep di atas, diperlukan minimal sekitar 2 jam untuk keadaan ragi baru. Adonan sampai 6 jam masih bisa dapat hasil bagus. Lebih dari 12 jam rasanya sudah agak asam dan ketika dieksekusi rasanya jadi seperti apem.
  • Eksekusi adonan menggunakan api yang keciiiiiiiiiil sekali

Saya memasak adonan martabak menggunakan wajan teflon ukuran kecil tapi bukan yang paling kecil. Maksudnya, ukuran wajan teflon saya seperti ukuran pizza di Pizza Hut yang Pan Personal (porsi 1-2 orang). Kalau martabak ini saya jual, akan saya beri nama Pan Personal Martabak. Dengan resep di atas, akan dihasilkan 5-6 buah Pan Personal Martabak.

OK, demikian resep dan tips membuat martabak manis dari saya. Selamat mencoba dan semoga berhasil!
Lanjut baca ah...

Kamis, 29 Mei 2014

Kuliner Waroeng Sawah

Hari ini adalah hari terakhir kami di Salatiga. Untuk itu, Bapak mengajak kami untuk menapaktilasi kehidupan keluarga kami di Salatiga dari waktu ke waktu.

Pertama, kami diajak mengunjungi rumah yang pertama kali dimiliki Bapak dan Ibu sebagai hasil kerja beliau berdua. Saat ini, rumah tersebut ditempati oleh sebuah keluarga yang diberi amanat oleh Bapak untuk meng-counter usaha Kristenisasi yang gencar di daerah itu. Pokoknya jangan sampai umat Islam terbuai oleh janji-janji dunia yang manis dengan syarat meninggalkan keislaman. Perkuat basis keislaman warga.

Kedua, Bapak mengajak kami ke taman kanak-kanak tempat beliau menyekolahkan anak-anaknya. Sambil beliau menerangkan beberapa hal terkait sejarah dan keadaan di sekitar TK, saya bernostalgia akan kenangan masa kanak-kanak.


Ketiga, kami mengunjungi rumah yang dimanfaatkan sebagai asrama murid-murid SMA IT di Salatiga. Sambil menerangkan hal-hal penting, kami memetik pepaya yg sudah matang di pohon di halaman rumah tadi.


Tuntaslah napak tilas kami dan tiba saatnya wisata kuliner. Kami mengunjungi rumah makan Waroeng Sawah yang terletak di tepi Jalan Lingkar Salatiga (JLS). Bagi suami saya, rumah makan ini adalah rumah makan penuh kenangan. Ceritanya, ketika pertama kali datang ke Salatiga, ia datang seorang diri untuk berkenalan dengan orang tua saya. Oleh orang tua saya, dia diajak ke rumah makan ini.

Untuk standar kota Salatiga, harga menu-menu di sini termasuk mahal. Tapi bagi orang Jakarta, harganya standarlah.. Dapat bonus pemandangan sawah yang luas serta view gunung-gunung yang mengelilingi kota Salatiga. Banyak gunung yang bisa dilihat daru sini seperti Gunung Merbabu, Telomoyo, Gajah Mungkur, dan lain-lain yang sambung menyambung mengelilingi Salatiga. Lihat saja video pemandangan yang bisa dilihat di Waroeng Sawah.



Itu baru satu sisi, belum lagi di sisi yang lainnya.


Di sini, kami pesan soto, ayam bakar, jus alpukat, dan jus sirsak. Jusnya kental dan nikmat. 



Sotonya, khas soto bening yang saya kenal di Salatiga. Tentu saja soto dan nasinya sudah langsung dicampur oleh penjual.

Ayam bakarnya juga OK. Kekurangan dari semuanya itu cuma masalah porsi yang kurang memuaskan bagi orang-orang yang suka makan seperti saya. 



Harga menu-menu di Waroeng Sawah berkisar dari Rp2.500,- sampai Rp85.000,-. Yang mahal di atas Rp50.000,- paling cuma menu-menu ikan saja. Selain itu, ya di bawah Rp50.000,-. Ayam bakar yang kami pesan tadi, harganya Rp12.500,-. Soto dan jus tentu saja di bawah itu.

Nah, puas makan.. Saatnya membayar. Sambil membayar, kami melewati sebuah etalase yang memajang souvenir-souvenir. Ternyata, di sini memang menjual souvenir yang bisa dibeli untuk oleh-oleh. Tapi karena saya bukan pecinta souvenir seperti itu, maka saya tidak beli. Saya ambil fotonya saja.



OK. Akhirnya, dengan berakhirnya kuliner kami di Waroeng Sawah, berakhirlah pula liburan kami di Salatiga. Malam ini juga, kami akan bertolak ke Jakarta.
Lanjut baca ah...

Rabu, 28 Mei 2014

Lele Goreng dan Telepon Perang

Hari ini kami habiskan di rumah saja. Walaupun begitu, bukan berarti liburan kami jadi membosankan. Tetep seru lho!

Pertama, ibu menggorengkan lele untuk makan kami sekeluarga. Bukan sembarang lele, ini lele yang dirawat Bapak di akuarium rumah! Untuk menyenangkan kami yang jauh-jauh datang berlibur dari Jakarta, Bapak merelakan lelenya yang cuma dua ekor untuk kami santap. "Sambil nguras akuarium," kata Bapak.
Sekali lagi, bukan sembarang lele, karena lele-lele Bapak ini super besar! Coba lihat saja di dalam gambar, perbandingan seekor lele dengan sebuah sendok makan. Jadi, meski cuma dua ekor, bisa untuk makan orang serumah berkali-kali.


Bapak dan ibu memang punya metode khusus dalam mengembangbiakkan lele sehingga lele-lele beliau berdua besar-besar dan berdaging. Tenang saja, makanan lele-lele itu benat-benar makanan bersih kok.. bukan kotoran makhluk hidup seperti yang dilakukan oknum-oknum peternak lele.



Nah,
setelah pesta lele, apa yang menarik hari ini? Saya bercerita pada suami tentang perkembangan telepon dari masa ke masa. Waktu saya masih kecil, telepon pertama yang saya kenal adalah telepon tanpa tombol. Kalau ingin menghubungi seseorang, kita harus memutar bulatan di tengah-tengah telepon. Angka-angka yang berbeda direpresentasikan dengan radian putaran yang berbeda.

Lama-lama, pembicaraan kami tentang telepon nyasar ke telepon kuno. Saya teringat bahwa Bapak menyimpan sepasang telepon kuno, yaitu telepon engkol militer yang digunakan semasa perang dulu. Telepon merk Alsi buatan Amerika ini besar dan berat, tapi sangat berguna pada masanya untuk komunikasi jarak jauh. Coba saja kalau kalian menonton film-film perang Amerika-Vietnam, kalian akan melihat telepon ini.


Percakapan dilanjutkan dengan bertanya kepada Bapak tentang cara kerja telepon ini. Berbekal pengetahuan dasar telekomunikasi yang pernah kami terima saat kuliah, kami pun dapat memahami konsep telepon kuno ini. Nggak usah lah ya saya terangkan detail di sini. Ini kan blog kuliner. Cerita konsep telepon kuno ini mestinya saya share di blog elektro saja :)

Pada akhirnya, sambil menikmati lele, kami dapat meruntut perkembangan teknologi telepon dari masa ke masa. Dengannya, kami dapat lebih bersyukur dengan berbagai kemudahan yang ada saat ini namun tanpa melupakan prinsip dasar komunikasi. Kacang tidak boleh lupa dengan kulitnya. Semoga pengetahuan yang kami peroleh ini dapat menginspirasi kami untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi umat.

Lanjut baca ah...

Selasa, 27 Mei 2014

Kuliner Kopeng: Awalnya Cuma Cari Susu Segar

"Hampir empat tahun nikah sama orang Salatiga, kok sama sekali belum pernah ke Kopeng," demikian canda suamiku ketika saya terkejut mendengar ajakannya ke Kopeng. Apa ya.. karena menurutku di Kopeng yang bagus adalah keindahan alamnya, tidak ada tempat rekreasi yang sesuai dengan minat suami saya. Belakangan, saya baru ingat ada Taman Wisata Kopeng dengan water park dan outbond-nya. Tapi setelah pernah mengunjungi Atlantik Dreamland Salatiga pada liburan yang lalu, TWK tidak terlalu menarik minat suami saya. Apalagi anak-anak masih kecil-kecil, belum bisa diajak main outbond yang model seperti itu.


"Susu, Bu.. ke pabrik susu. Kamu bilang pabrik susu ada di Kopeng kan?" kata suamiku. 
Nah, benar juga. Saya pun belum pernah mengunjungi pabrik susu murni yang terkenal itu, Susu Murni Nasional. Rencana kami, jalan-jalan menikmati alam Kopeng lalu mampir ke pabrik untuk beli susu. Sayangnya, sekarang tanggal merah dan pabrik tutup. Tamu tak dikenal seperti kami juga tidak diperkenankan melihat-lihat ke dalam pabrik. Ditambah lagi, pabrik tidak menjual secara eceran. Kami pun berburu susu segar yang lain di Jalan Raya Salatiga-Kopeng. Hasilnya, kami beruntung mencicipi kuliner Kopeng selain susu segar.

Warung Kolak Durian

Pertama kali melewati warung ini, saya sama sekali tidak tertarik. Dalam bayangan saya, kolak durian ya kolak biasa ditambah dengan durian dan saya tidak terlalu menyukainya. Bagi saya, durian enaknya ya dimakan langsung.. Modifikasi durian yang saya suka paling ya es durian, pancake durian, lempok, dan.. saya ingin deh merasakan cake durian yang dibuat durian dan tanpa menggunakan gula sama sekali. Pada akhirnya, kami tetap mampir juga ke Warung Kolak Durian karena ada tulisan “SEDIA SUSU SEGAR” pada plang tokonya. Kami sungguh tidak kecewa memutuskan mampir ke toko ini karena ternyata menu-menunya menarik juga. Saya memesan tahu campur dan suami saya memesan es durian spesial. Saya tertarik memesan tahu campur karena bagi saya tahu campur memang kuliner khas Salatiga. Sejauh ini, tahu campur yang menurut saya enak adalah tahu campur gerobagan/pikulan yang sering mangkal di halaman Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq (Sultan Fatah) Salatiga. Nah, di Kopeng ini, saya ingin mencoba tahu campurnya. Apakah seenak tahu campur di halaman masjid tadi? OK, ini pesanan saya sudah datang.



Ternyata rasanya enak lho! Saya pesan yang pedas, dan hasilnya memang pedas tapi nggak kebangetan kok pedasnya. Pas, enak. Kekecewaan saya hanya pada karak (di Jakarta biasa disebut kerupuk gendar). Karak pada tahu campur ini nggak ketulungan kerasnya. But overall, semuanya enak. Ketupat, tahu, bakwan, kubis, bumbu, kuah.. semuanya enak, pas pedasnya, pas semuanya. Selanjutnya, saatnya mencicipi es durian spesial.

Woow, es durian ini memang spesial! Kalau di jakarta, harga Rp12.000,- baru dapat es durian yang biasa saja. Di sini sudah dapat yang spesial. Kalau mau yang biasa saja, cukup keluarkan Rp7.500,- saja. Salatiga memang surga kuliner. Banyak macamnya, murah harganya.

Es durian spesial di warung ini terdiri atas tiga buah durian yang matang dan manis, buah selasih, rumput laut, cincau, serta agar-agar. Warna coklat pada kuah seperti terlihat pada gambar dihasilkan dari gula jawa. Nama minuman ini selengkapnya memang es durian gula jawa spesial.
Selain kolak durian, es durian, serta tahu campur... di warung ini juga dijual ayam goreng untuk pilihan makan berat. Asyiknya, di sini juga dijual oleh-oleh khas Kopeng dan Salatiga. Jadi, saya tidak perlu meluangkan waktu lain lagi untuk membeli oleh-oleh. Semuanya saya beli di sini. Oleh-oleh khas Kopeng adalah makanan-makanan modifikasi berbahan dasar waluh (labu kuning yang suka diidentikkan dengan Halloween). Adapun oleh-oleh khas Salatiga misalnya ada enting-enting gepuk dan keripik bayam. Tidak tanggung-tanggung, enting-enting gepuk yang dijual di sini hanya enting-enting gepuk merk Klenteng dan 2 Hooloo. Merk ini merupakan merk enting-enting gepuk terenak pada saat merk enting-enting gepuk belum terlalu banyak dulu. Kalau sekarang sih, katanya sudah banyak yang enak dengan rasa mirip-mirip dengan merk Klenteng dan 2 Hooloo. Tapi untuk saya, kalau ada Klenteng dan 2 Hooloo, saya akan lebih memilih merk ini.



Oh, iya.. tujuan kami mampir ke warung ini kan karena ingin mencicipi susu segar. Sayangnya, hari ini susu segar tidak tersedia karena petani sedang meliburkan diri dengan tidak mengirim susu segar. Ya, warung ini membeli susu segar langsung dari petani lokal dan bukannya dari pabrik susu yang letaknya tidak terlalu jauh dari warung ini. Menurut pengelola warung ini, kualitas susu petani lokal lebih bagus daripada susu dari sapi pabrik. Untuk masalah kualitas susu segar, mereka memang tidak mau main-main karena mempengaruhi nilai gizi dari susu tersebut. Apabila kualitas susu tidak bagus, mereka tidak akan mau menerima susu tersebut dan mengembalikannya kepada supplier.

Baiklah, rupanya petualangan susu segar kita masih belum berakhir. Sambil menikmati keindahan alam Kopeng, kami pun akhirnya menemukan toko yang memang spesialis susu segar.

Susu Segar Salib Putih
Dari dulu, Yayasan Salib Putih memang sudah berkecimpung dalam bisnis susu segar. Hanya saja, yang saya tahu dulu sewaktu masih tinggal di Salatiga, model bisnisnya adalah mengantar susu segar ke rumah-rumah sesuai pesanan. Nah, ternyata sekarang ini Salib Putih sudah mendirikan warung minum susu khusus kaya' Cimory Resort gitu.. Nama Salib Putih tentu jelas menunjukkan identitas bisnis yang dimiliki oleh yayasan milik orang Nasrani. Memang demikianlah kondisi di Salatiga di mana banyak para pemeluk agama yang tidak menutup-nutupi identitas keagamaannya, baik muslim maupun non muslim. Identitas di sini bukan hanya dari penggunaan busana atau nama orang, tapi juga pada nama-nama bisnis. Contoh lain dari nama bisnis yang kental nuansa agamanya misalnya adalah percetakan Trinity. Baiklah, kembali lagi ke Susu Segar Salib Putih.

Memasuki area toko yang memiliki tempat parkir cukup luas ini, kami sekeluarga bagai orang aneh yang masuk ke negeri asing. Dengan santai kami masuk dan disambut oleh anjing berbulu coklat yang menjulurkan lidahnya. Anjing baik, dia cukup tahu diri untuk tidak menyambut terlalu dekat apalagi sampai mengendus-endus. Selain disambut oleh anjing yang baik, kami juga disambut oleh tatapan pengunjung-pengunjung lain sejak memasuki pintu hingga duduk di meja kami. Entahlah. Mungkin terlihat aneh, kami yang jelas-jelas menunjukkan identitas muslim (dari busana kami) memasuki toko yang jelas-jelas menunjukkan identitas non-muslim. Sedangkan hampir semua pengunjung di sana adalah warga Indonesia keturunan Cina yang kemungkinan besar bukan beragama Islam. Tapi yah.. kami sedang ingin mencicipi susu segar di Kopeng dan kami menemukan tempat ini.

Di sini, kami memesan tiga cangir susu segar dengan beberapa variasi yaitu susu segar murni, rasa coklat, dan rasa strawberry. Di antara tiga macam susu yang kami pesan tadi, kami paling menyukai susu segar murni. Kental, gurih, tidak terlalu beraroma sapi, dan rasa manis gula pasir yang cukup, tidak terlalu manis. Untuk rasa coklat, kurang terasa coklat murninya. Tercecap dalam lidah kami rasa-rasa kopi di sela-sela rasa susu dan coklat. Kami pikir, sepertinya susu ini lebih cocok disebut rasa mocca. Adapun untuk rasa strawberry, kami meyakini bahwa susu ini tidak menggunakan strawberry segar. Lebih terasa seperti menggunakan strawberry essens. Next time, kalau kami harus minum susu di sini lagi, kami akan memilih susu segar murni saja. Harga susu segar di sini bervariasi dari Rp3.000,- hingga Rp5.000,- tergantung rasa yang dipilih.



Selain susu segar, kami juga mencicipi frozen yogurt yang dijual di sini. Dalam bayangan saya, frozen yogurt memiliki tekstur kental dan lembut seperti es krim atau pasta. Ternyata, tidak demikian frozen yogurt yang kami peroleh di Susu Segar Salib Putih. Frozen yogurt di sini memiliki tekstur kres.. kres... Tekstur seperti ini dapat diperoleh dengan membuat yogurt cair yang kemudian dibekukan di dalam freezer. Walaupun demikian, bukan berarti nggak enak lhoFrozen yogurt di sini sangat enak untuk standar yogurt cair yang dibekukan. Selain itu, penampilannya pun menawan orang yang akan memakannya.

Frozen yogurt berbentuk balok tipis dihiasi dengan topping choco chips, sprinkle, kismis, dan coklat putih lalu disiram dengan sirup merah. Rasa topping secara seimbang menyempurnakan kenikmatan frozen yogurt. Dengan harga Rp6.000,- saja, kita sudah dapat menikmati menu ini.

Nah, demikianlah wisata kami hari ini, kuliner Kopeng yang tidak disengaja. 
Lanjut baca ah...

Senin, 26 Mei 2014

Bravo, PT. KAI !


Pulang kampung kali ini benar-benar mengesankan karena banyak jalan-jalan dan kuliner bersama keluarga. Jalan-jalan ke tempat wisata dan juga menjajal jalan-jalan baru yang dulu belum ada saat saya masih tinggal di Salatiga. Baiklah, saya akan ceritakan kisah per harinya di artikel-artikel yang berbeda karena setiap hari memiliki tema dan kesan yang berbeda. OK, langsung saja kita mulai artikel pertama kita: perjalanan keberangkatan.

Kereta Api Jarak Jauh Kelas Ekonomi (Foto dari nugart.blogspot.com)

Berangkat dari rumah di Depok pukul 4 dini hari, kami naik taksi ke Stasiun Pasar Senen. Kami akan naik kereta api Tawang Jaya jurusan Stasiun Poncol Semarang. Kali ini kami percaya diri naik kereta ekonomi untuk perjalanan jarak jauh karena PT. KAI sekarang memang berusaha sebaik mungkin meningkatkan kualitas fasilitas dan pelayanan. Seluruh penumpang KA jarak jauh dijamin memperoleh tempat duduk, tidak ada pedagang di dalam kereta (apalalagi pengamen), dan setiap gerbong diberi fasilitas AC yang dingin. Selain itu, menurut testimoni dari berbagai sumber, waktu keberangkatan dan kedatangan kereta api sekarang tepat waktu. Jadi, bulatlah keputusan kami untuk menggunakan kereta api kelas ekonomi dengan tarif Rp45.000,- per orang (dewasa). Untuk anak di bawah 3 tahun, tidak dikenakan biaya alias gratis. Tapi jika ia mengambil tempat duduk sendiri, maka dikenakan tarif anak-anak sebesar 30% dari tarif orang dewasa.

Setibanya di stasiun Pasar Senen, tampak antrean masuk stasiun mengular. Maklumlah, banyak orang cuti kerja pekan itu karena banyak hari terjepit. Ternyata, tidak seluruh calon penumpang boleh langsung mengantre. Calon penumpang hanya boleh mulai mengantre paling cepat 1 jam sebelum waktu keberangkatan. Jadi jika kereta Anda akan berangkat pukul 7, Anda tidak diperbolehkan langsung masuk meski sudah datang sejak jam 3. Anda boleh mulai masuk paling cepat jam 6. Kalau dipikir-pikir, kebijakan ini memang bagus sih agar ruang tunggu di dalam stasiun tidak berjubel sehingga setiap calon penumpang yang sudah masuk stasiun akan dapat menunggu dengan lebih tenang, lebih aman, dan lebih bisa duduk. Ke depannya, jika memungkinkan untuk memperluas area stasiun, bisa jadi sistem tunggunya dibuat seperti bandara dengan terminal-terminal khusus. Untuk area stasiun yang masih seperti sekarang, saya pikir kebijakan ini PT. KAI memang sudah tepat.

Maintenance kereta api pun sekarang juga semakin baik. Jika Anda perhatikan stasiun-stasiun yang telah direnovasi ulang, akan tampak pipa-pipa tersumbat yang dipasang di setiap jarak sekian meter. Pipa-pipa tersebut sejatinya adalah pipa air. Ketika sumbatannya dibuka, mengalirlah air dari ujung pipa-pipa tersebut. Dari ujung pipa yang terbuka, biasanya kemudian dipasang selang untuk mencuci kereta api. Ya, benar.. kereta api sekarang bersih-bersih lho karena rajin dicuci.


Pelayanan PT. KAI terhadap penumpang rombongan juga patut diacungi jempol (dengan perjanjian). Ceritanya, ada rombongan pelajar dari SMA Candle Tree BSD yang memanfaatkan kereta yang sama dengan yang kami tumpangi. Untuk memastikan agar rombongan tidak terpisah, ketika rombongan tiba maka satu jalur antrean masuk disterilkan oleh petugas agar dapat digunakan khusus untuk rombongan saja. Calon penumpang di luar rombongan dipersilahkan untuk mengantre di jalur yang lain (tanpa harus mengantre ulang dari belakang). Ketika seluruh anggota rombongan telah masuk stasiun, jalur segera dapat digunakan oleh penumpang lain.


Yah, kami terkesan atas usaha PT. KAI untuk meningkatkan kualitasnya. Over all, kami merasa puas. Untuk perjalanan kali ini, surprise bagi kami karena rombongan anak SMA tadi menggunakan gerbong yang sama dengan kami. Perjalananpun semakin ceria, bagai jadi anak sekolahan lagi.
Lanjut baca ah...

Minggu, 20 April 2014

Melancong Irit ke Belitung

Sebenarnya perjalanan ini dilakukan bulan April tahun lalu, tapi saya baru sempat menceritakan sekarang. Semoga kondisinya belum jauh beebesa, terutama untuk masalah cost. Ceritanya, suami dapat voucher perjalanan sebagai apresiasi perusahaan atas kinerja suami. Kebetulan saya dan suami ingin melancong ke Pulau Belitung. Selain untuk mengunjungi berbagai spot di Belitung, kami juga ingin bertatap muka dengan seorang sahabat yang tinggal di sana.

Sebagai usaha persiapan, saya mendapat tugas untuk mengumpulkan berbagai informasi yang akan berguna untuk misi pelancongan tersebut. Informasi yang saya perlukan antara lain harga tiket pesawat, penginapan, transportasi dari bandara ke penginapan, transportasi yang akan kami gunakan untuk melancong, serta tak lupa tempat-tempat makan dan tentunya harga makanan di sana. FYI, kami sama sekali tidak tertarik untuk menggunakan jasa tour. Selain karena mahal, menggunakan jasa tour berarti kami tidak bisa terlalu bebas menentukan ke mana kami akan pergi. Kami ingin melancong sendiri, memuaskan hasrat petualang kami. Oleh karena itu, tak lupa saya cari peta pulau Belitung terbaik yang bisa kami peroleh (kalau memungkinkan saat itu, mending pinjam atlas punya anak sekolahan saja :d). Dengan persiapan yang matang, kami akan dapat memperkirakan biaya yang akan dikeluarkan untuk misi ini.

1. Tiket pesawat
Saat itu, penerbangan ke Belitung dimonipoli oleh Sriwijaya Air sehingga kami pikir tiket cukup mahal yaitu 2,3 juta rupiah untuk perjalanan pulang-pergi (2 orang dewasa, 1 infant). Jadi, per orang jatuhnya sekitar 500-600 ribuan ya. Kami berangkat hari Kamis dan pulang hari Minggu. Kalau saya cek tiket pesawat sekarang, ternyata harganya juga masih segitu. Malah banyak yang lebih mahal lagi. Alhamdulillah ya berarti saat itu harga tiket termasuk murah, masih dapat diskon karena pakai voucher pula.


2. Penginapan
Saya menemukan blog pariwisata Belitung yang mencantumkan daftar hotel dan penginapan di sana, meliputi alamat dan nomor telepon. Saya pun menelepon setiap hotel tadi untuk menanyakan tarif, fasilitas, ketersediaan kamar pada tanggal kedatangan kami, serta fasilitas umum dan lingkungan sekitar hotel. Tarif per malam untuk hotel-hotel di Belitung sangatlah terjangkau, dari Rp85.000,- hingga Rp250.000,-. Kami pun menjatuhkan pilihan ke penginapann Citra dengan tarif Rp.85.000,- per malam (single bed) atau Rp160.000 per malam (2 single bed dalam 1 kamar). Fasilitas di penginapan ini memang tidak lux tapi nyaman and just like home. Selain itu, lokasi hotel yang benar-benar di pusat kota memudahkan kami untuk membeli berbagai keperluan, ATM, dan tentunya wisata kuliner. Selain itu, Hotel Citra sendiri memiliki layanan sewa mobil/motor dengan harga terjangkau sehingga kami tidak perlu repot mencari tempat sewa lagi.


3. Transportasi dari bandara ke penginapan
Dari bandara ke penginapan kami naik taksi dengan tarif awal Rp50.000,- per orang (bisa ditawar sedikit). Jarak antara bandara dengan pusat kota memang lumayan juga, jadi tarif tersebut ya cukup worthed kalau dilihat dari jarak dan ketidaktersediaan alat transportasi umum yang lain. Kemudian, jangan dibayangkan taksi di sana seperti taksi di Jakarta yang menggunakan mobil sedan bertulisan "TAXI" dan memakai argo. Taksi di sini menggunakan mobil besar semacam kijang atau panther dan tarifnya diberlakukan per orang. Jangan lupa menanyakan nomor contact pak sopir agar bisa diorder untuk mengantar Anda ke bandara saat akan pulang nanti.


4. Transportasi untuk melancong
Menyewa motor atau mobil sangat menyenangkan untuk misi petualangan kali ini. Sewa motor di Hotel Citra adalah Rp60.000,- per 24 jam. Adapun sewa mobil harganya Rp200.000,- per 24 jam tanpa sopir. Pastikan Anda mengembalikan kendaraan sewa dalam keadaan full tank. Bensin bisa dibeli di kios-kios bensin yang banyak ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Di Belitung, tidak ada pom bensin seperti yang biasa ditemukan di Pulau Jawa.


5. Kuliner
Untuk kuliner, awalnya saya agak ketar-ketir karena testimoni seorang sahabat yang pernah melancong ke Belitung. Menurutnya, harga makanan di Belitung sangatlah mahal. Makan di semacam warteg dengan menu yang biasa saja kok bisa habis Rp60.000,- untuk berdua. "What!!" pikir saya waktu itu. Tapi setelah saya search di intrrnet, kok rata-rata testimoni harga makanan di Belitung murah-murah ya? Setelah saya jalani sendiri, ternyata memang murah-murah lho! Nasi uduk sepiring penuh (nasinya ga pelit), pakai AYAM, tahu, telur, bihun, dan tempe orek saja cuma Rp5.000,-. Kalau di Jakarta berapa coba? Bisa jadi tiga kali lipatnya tuh... Untuk makanan-makanan yang diburu turis di sana pun harganya juga standar atau bahkan murah untuk ukuran orang Jakarta. Lihat saja, mie Belitung harganya cuma Rp10.000,-


6. Wisata
Kami tiba di Belitung hari Kamis sore, melancong pada hari Jumat-Sabtu, lalu kembali ke Jakarta hari Minggu siang. Kamis sore, kami sudah mulai menyewa motor yang bisa kami gunakan untuk jalan-jalan. Di malam pertama kami di Belitung itu kami buka mata buka telinga tentang keadaan sekitar penginapan kami, ngobrol-ngobrol dengan orang penginapan tentang rencana perjalanan kami untuk memperoleh saran terbaik, dan mencicipi belanja di supermarketnya kota Tanjung Pandan, Belitung.


Jumat pagi, kami sarapan di lapak nasi uduk (padahal ada jatah sarapan juga dari hotel :D) lalu mampir ke rumah teman yang memang ingin kami kunjungi. Kami pamit setelah shalat Jumat/Dzuhur dan lanjut berwisata ke pantai-pantai di Belitung Barat. Hari Jumat ini memang kami khususkan untuk wisata air yang basah-basahan sehingga besoknya tidak perlu basah-basahan untuk mengirit baju bersih. Pantai Tanjung Pendam, Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, dan Bukit Berahu (bagus untuk lihat sunset) bisa dinikmati hari ini.


Hari Sabtu, kami khususkan untuk wisata darat. Kalaupun melewati pantai (dan sepinggir Pulau Belitung memang ada banyak tempat wisata pantai), kami hanya berfoto dan tidak berbasah-basah. Tujuan wisata darat? Apalagi kalau bukan napak tilas Laskar Pelangi. Dari warung kopi di Manggar, Museum Kata Andrea Hirata (jangan lupa beli kaosnya), Perumahan PN Timah, sampai ke SD-nya Laskar Pelangi.
Menggunakan motor, kami mengelilingi Pulau Belitung dari pagi sampai sore. Belitung bagian barat, utara, timur, dan tengah.. semuanya sudah kami jelajahi. Oleh-oleh juga sudah dibeli di Museum Andrea Hirata, toko souvenir di Tanjung Pandan, serta toko makanan di seberang hotel. Tinggallah Belitung bagian selatan yang belum sempat kami coba. May be next time, inshaa Allaah! Malamnya, kami diundang makan malam oleh sahabat kami di sebuah restoran sea food. Thank you Madeline & husband for the great dinner!


Hari Minggu sebelum pulang, kami jalan-jalan ke KUMKM, sebuah toko yang menampung produk-produk UKM di Belitung. Kami tidak beli, tapi menarik untuk melihat-lihat apa saja produk yang dihasilkan masyarakat Belitung.


***

Nah, demikianlah resume perjalanan kami ke Belitung. Over all, di luar ongkos pesawat, kami mengeluarkan biaya sekitar 1 juta rupiah untuk seluruh keperluan berikut:

  • Biaya penginapan dari Kamis malam sampai Minggu pagi
  • Makan-makan sepuasnya sampai kenyang selama di Belitung
  • Ongkos transportasi dan bensin selama di Belitung
  • Beli oleh-oleh untuk keluarga, tetangga, dan teman-teman di Jakarta
Murah? Mau ikut mencoba? Ayo, kami tunggu share darimu!
Lanjut baca ah...
/div